Pendapat Tentang Kekafiran Syi’ah Bag.2

Segala puji bagi Allah, Tuhan pemberi hidayah kita kepada Islam, dan tiada mungkin kita mendapat petunjuk sekiranya bukan dengan hidayah Allah SWT. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi-Nya yang mulia, yang telah meninggalkan kita pada jalan yang terang sehingga malamnya laksana siang, tiada sesat orang yang berjalan meniti jalan-Nya dan tiada terbimbing orang yang menyimpang dari pada-Nya. Shalawat dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya sebaik-baik manusia yang telah menjadi bintang-bintang penunjuk jalan, begitu pula teruntuk barangsiapa yang mencintai mereka dan mengikuti petunjuk mereka sampai kelak hari kiamat dan hancurnya bumi dan langit.

Kata-kata ini menjelaskan kepercayaan Syi’ah dan Aqidahnya, saya himpun dalam kerangka ini dari Buku-buku Induk Agama dan sumber referensi mereka, dengan menyebut nama buku rujukan itu dan nomor halamannya, agar menjadi saksi, bahwa apa yang kami katakan dan nukil adalah semata-mata dari kajian dan literatur mereka sendiri.

Selanjutnya saya susul dengan kumpulan Fatwa Imam-imam dan Ulama Kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah, menjelaskan pendirian mereka mengenai kepercayaan dan I’tikad kaum Syi’ah Rawafidh.

Kumpulan fatwa itu saya nukil dengan sedikit keringkasan (dari sebuah Risalah yang ditulis oleh Dr. Nashir al Ghitari) dengan harapan akan memberikan penerangan kepada kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah agar mereka tidak tertipu oleh berbagai slogan Syi’ah, atau dengan aneka macam propaganda mereka yang mempesona.

Sebab banyak orang di kalangan kaum muslimin karena prasangka mereka yang baik dan hati mereka yang tulus, serta kurangnya pengetahuan mereka perihal kepercayaan Syi’ah dan buku-buku agama mereka, telah menjadi korban tipuan propagandis-propagandis Syi’ah dan dalang-dalangnya. Dan hal yang menyedihkan sekali, ada sebagian orang dikalangan Ahlissunnah Wal-Jama’ah yang disebut dengan nama Ilmuwan, telah tertipu oleh tipu muslihat Syi’ah dan terbius oleh alunan irama langgam mereka, padahal sekiranya ilmuwan-ilmuwan itu waspada dan sadar sejenak dan berupaya untuk membaca dan meneliti buku-buku rujukan agama Syi’ah, niscaya akan menjadi jelas bagi mereka kejelian Firman Allah:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36).

Bila demikian halnya, gerangan apakah yang bakal disediakan oleh ilmuwan-ilmuwan itu dihadapan Allah SWT nanti untuk menetralisir kegegabahan mereka yang telah menjatuhkan banyak korban yang telah tersesat dalam Aqidahnya di kalangan anak-anak muda Ahlissunnah Wal-Jama’ah disebabkan oleh tulisan-tulisan maupun ucapan simpati mereka terhadap doktrin Syi’ah dan kaumnya, Sambung-rasa mana telah disebar-luaskan oleh media propaganda mereka serta lembaga pendekatan mereka yang telah menghembuskan angin berbisa untuk mensyi’ahkan kaum Muslimin di tengah-tengah kampung halamannya. Hanya kepada Allah-lah kami hadapkan keluhan kami dari pola berpikir picik mereka itu. Perlu anda ketahui juga, bahwa yang terbanyak dikalangan Syi’ah sendiri dalam memeluk agama, mereka tidak tahu menahu tentang buku-buku rujukan agama mereka, karena buku-buku itu dijauhkan dari penglihatan mereka dan ditarik dari peredaran di tengah-tengah mereka, dengan demikian pengetahuan dan cara mereka beragama, adalah semata-mata taklid buta kepada apa yang diindoktrinasikan dan disuapkan kepada mereka oleh penghulu-penghulu dan juru-juru kunci imam-imam mereka dengan memanipulasi slogan “Pembela Ahlilbait” yang selalu mereka jadikan umpan dan kuda tunggangan keserakahan mereka, padahal I’tikad dan kepercayaan, ucapan dan perangai mereka sungguh bertolak belakang dengan I’tikad, prilaku dan perangai “Ahlilbait Radhiallahu Anhum”.

Adapun yang menjadi norma dan kriteria kaum Syi’ah perihal “Cinta dan Membela Ahlilbait” adalah: Mengagungkan dan mensucikan mereka, mengangkat mereka ke derajat Ketuhanan, memuja-muji mereka secara berlebihan, memaki, mengutuk para Sahabat Nabi dan para istri beliau serta berdusta atas nama Rasul Allah dan Ahlilbait dengan mengatakan sesuatu yang tidak pernah mereka katakan, mempercayai kepercayaan yang tidak pernah mejadi kepercayaan mereka dan menuduh Ahlilbait membuat sesuatu yang tidak pernah dibuatnya.

Tingkah laku durhaka inilah yang menjadi tolak-ukur, norma-norma, dan kriteria Syi’ah Rawafidh menjadi slogan “Membela dan cinta kasih kepada Ahlilbait”. Maka dengan slogan dan doktrin itu, penghulu-penghulu Syi’ah membius pengikut-pengikut mereka dan yang mengorbit dalam lingkaran mereka, untuk tetap mengontrol dan menguasai pengikut-pengikut yang terlena itu, agar mengalir terus-menerus kepada penghulu-penghulu itu, harta-harta yang terkumpul dari peziarah-peziarah Gua Imam mereka yang ghaib serta Masyad-masyad Imam-imam mereka dan para muridnya; dan lebih dari itu upeti KHUMUS yang dikenakan atas tiap orang Syi’ah dalam semua lapangan hidupnya yang harus dibayar tanpa dikurangi sepeser pun kepada penghulu-penghulu mereka oleh massa Syi’ah yang terbius dan tertipu itu.

Pemerkosaan-pemerkosaan ini, dilakukan dengan mencatut nama Ahlulbait, sedangkan Ahlulbait tidak ada hubungannya dengan mereka serta bersih dari tuduhan palsu mereka itu.

Syi’ah telah mengkafirkan siapa saja yang tidak cenderung kepada mereka dan tidak percaya dengan kepercayaan mereka, dimulai dengan mengkafirkan para Sahabat Nabi Saw dan para istri beliau, terus kepada imam-imam dan ulama kaum Muslimin serta umat Islam pada umumnya.

Dan untuk menopang tindakan mereka mengkafirkan itu, mereka tidak segan-segan membuat hadits-hadits palsu dan berdusta atas nama Rasulullah saw, dan para imam Ahlilbait, begitu juga, mereka menta’wil memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk dipaksakan memenuhi selera mereka dalam menafsirkannya sekalipun menyimpang jauh dari kaidah-kaidah bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an itu sendiri, dan tidak kepalang tanggung, mereka menganggap ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak dapat dipaksakan untuk menopang selara mereka itu telah di ubah ayat-ayatnya dan diganti oleh para Sahabat Nabi Saw, malah menganggap Kitabullah secara keseluruhan sudah bukan asli lagi dan telah diubah dan dikurangi oleh para Sahabat itu, sedangkan yang asli hanya ada di tangan imam mereka yang ghaib. Demikianlah apa yang menjadi I’tikad dan kepercayaan kaum Syi’ah Rawafidh.

Saudara-saudara seiman, apabila anda membaca buku-buku sejarah Islam, maka anda akan menjumpai dari mulai kelompok Syi’ah ini didirikan sampai hari ini dan seterusnya, yang hanya Allah saja yang tahu kapan malapetaka ini berakhir, Syi’ah itu mengemban satu risalah, satu misi saja, ialah membuat makar terhadapa Agama Islam dan kaum Muslimin, serta bergandengan tangan dengan musuh-musuh Allah untuk menumpas Islam dan kaum Muslimin.

Apabila anda meneliti sejarah Islam, maka sepanjang sejarah itu, tidak akan anda temukan satu pun upaya maupun pembelaan dan loyalitas mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin, tetapi yang dibuktikan oleh sejarah adalah sebaliknya.

1. Pembunuhan terhadap Khalifah Alfaruq (Umar Ibnul Khaththab ra) dilakukan oleh mereka melalui Abu Lu’lu’ah Almajusi yang diberi gelar oleh Syi’ah dengan gelar Baba Syujauddin (Pahlawan agama sejati) dan hari terjadinya pembunuhan itu dijadikan hari raya oleh mereka.

2. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan ra, telah direncanakan dan dilakukan oleh tangan-tangan berdarah mereka (oleh Abdullah bin Saba’ dan kader-kadernya).

3. Khilafah Abbasiah yang merupakan Khilafah Ahlilbait dari anak keturunan Alabbas bin Abdul Muthalib dari Bani Hasyim, telah mereka tumbangkan dengan membunuh ratusan ribu kaum Muslimin, laki-laki dan perempuan, tua dan muda karena pengkhianatan dan persekongkolan pemimpin-pemimpin mereka Nashiruddin Atthusi dan Ibnul Algami dengan Hulaku Khan dan bala tentara Mongolnya.

4. Sejarah pun mencatat kejahatan dan pembunuhan terhadap seratus enam puluh ribu jiwa muslim dari suku Quraisy, sukunya Rasulullah saw, oleh algojo mereka Abu Muslim Alkhurasani.

5. Pemberontakan Az-Zinj yang memakan banyak korban dan yang menumpahkan banyak darah, telah didalangi dan dipimpin oleh tokoh-tokoh mereka.

6. Memasuki kota Mekkah di musim Hajji dan membunuh puluhan ribu Haji dan menyumbat sumur Zam-zam dengan sebagian mayat-mayat mereka kemudian membongkar Ka’bah, kiblatnya kaum muslimin dan mencuri Alhajarul Aswad adalah perbuatan biadab dan durhaka mereka.

7. Berkhianat terhadap kaum Muslimin dan bersekongkol dengan balatentara Salib dan menghalangi Shalahuddin Alayyubi agar tidak membebaskan Baitalmaqdis dan Al-Aqsha serta seluruh Palestina dari cengkeraman balatentara Salib, adalah dengan pengkhianatan dan bekerja sama kerajaan mereka yang menamakan diri dinasti Fathimiyyah dengan bala tentara Salib.

8. Kerajaan Syi’ah Shofawiyah di Iran telah bersekongkol dengan Yahudi, Nashrani dan free Masonry untuk menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah, yang merupakan perbentengan terakhir bagi Islam dan kaum Muslimin di kala itu untuk membendung penjajahan Barat; dan yang lebih celaka lagi, mereka Syi’ah itu membatalkan Hukum Jihad dengan alasan Imam mereka yang ghaib belum keluar dari persembunyiannya, agar supaya kaum Muslimin terus menerus tertindas dan terhina di bawah belenggu penjajahan.

9. Kejadian-kejadian ini adalah fakta sejarah, sepanjang sejarah Islam yang telah lalu, yang mencatat kejahatan dan pengkhianatan Syi’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin, sejarah modern hari ini pun mencatat kejahatan-kejahatan mereka yang serupa yang dilakukan oleh Syi’ah Nushairiyyah di Syria dengan membunuh dan membantai secara massal Jamaah Al Ikhwanul Muslimin, begitu juga keganasan dan pembantaian yang dilakukan oleh Amal Syi’ah maupun Syi’ahnya Khumaini di Lebanon terhadap warga Palestina. Begitu halnya dengan pengkhianatan-pengkhianatan mereka di Afghanistan yang bukan rahasia lagi.

Ini semua adalah bukti sejarah atas sikap dan tindakan makar mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah yang lalu maupun sejarah modern kini.

Kepada setiap Mukmin yang beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhirat, Ketentuan Qadha yang baik maupun yang buruk. Kamitujukan tulisan ini kepada mereka agar dapat dengan jelas mengetahui hakekat Agamanya, mengetahui dengan secara yakin siapa yang menjadi saudaranya sesama satu Kiblat dan siapa yang mengaku-aku, padahal mereka itu sesat dan menyesatkan sekali dan keluar dari jalan yang benar. Sehingga dengan demikian saudara tidak terkecoh antara yang hak dan bathil, atau sesuatu yang benar tetapi ternyata dimanipulir untuk kebathilan. Karena Allah swt telah menjelaskan kepada kita dengan mengutus Rasul-Nya saw jalan yang lurus dan memberi petunjuk kepada kita pada jalan-Nya yang lurus serta menyempurnakan untuk kita agama-Nya itu di dunia ini sampai hari Kiamat. Sedangkan di luar yang benar yang ada hanyalah kesesatan yang nyata.

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt – berikut ini marilah dicamkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para Imam dan Ulama Islam, yang dengan pernyataan mereka yang tegas menyatakan kekafiran Syi’ah Rafizhah Imamiah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah serta terhempasnya mereka dari Islam laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Dalil yang digunakan oleh para Ulama dalam menetapkan hukum tersebut adalah dalil-dalil Qathi’, di mana golongan yang telah keluar dari Islam ini sudah berbeda prinsip maupun detailnya serta konsep-konsepnya dari Aqidah Ahlil Kiblat, yaitu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, agar kaum muslimin tidak terkecoh oleh mereka dan dengan secara jelas memahami golongan yang telah keluar dari Islam ini serta aqidah-aqidahnya yang sesat.

Golongan yang telah keluar dari Islam ini berusaha dengan berbagai macam cara menyelubungi dirinya di balik slogan-slogan yang sesat, bahwa mereka “masih termasuk Ahlil Kiblat” dengan mengerahkan kemampuan penulisan dan propagandis bayaran mereka. Untuk dakwah dan propagandanya ini golongan tersebut membelanjakan harta yang banyak sekali guna menjaring orang-orang awam dan memasukkan mereka di dalam jebakannya. Golongan ini terkadang mempergunakan slogan “demi persaudaraan Islam”, padahal mereka adalah manusia yang paling jauh dari Islam dan pengikutnya. Terkadang pula mereka menggunakan slogan “sambung rasa” antara golongan Sunnah dan Syi’ah. Tetapi bagaimana mungkin dan kapan bisa terjadi adanya “sambung rasa” antara yang hak dengan yang bathil. Prinsip apa yang akan digunakan untuk membangun persatuan antara yang baik dengan yang buruk. Bagaimana bisa berhasil mempertemukan serta terjadinya kesepakatan antara hidayah dan kesesatan?. Dan terkadang di tampilkan slogan “apakah boleh mengkafirkan golongan sesama satu Kiblat?” Slogan-slogan tersebut memang benar, tetapi dimanipulasi untuk tujuan bathil. Sebab Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah dan tidak menyatakan sesuatu pernyataan seperti yang dikatakan oleh golongan Syi’ah, bahwa Karbala, Qom, Kufah lebih mulia daripada kota Makkah dan Madinah. Ahlil Kiblat tidak akan mengatakan “barangsiapa pergi haji 20 kali ke Makkah tertulis pahalanya senilai dengan sekali pergi ziarah ke kuburan Husein”. Ahlil Kiblat tidak akan berkeyakinan bahwa “Allah menyaksikan para pengunjung kuburan Husein sebelum menyaksikan para Haji di Arafah”. Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah sebagaimana diucapkan dan menjadi keyakinan golongan Syi’ah, bahwa Allah berkata kepada Ka’bah: “Pemberian-Ku kepadamu bila dibandingkan dengan pemberian-Ku kepada bumi Karbala adalah laksana kelembaban sebuah jarum yang dicelup dalam laut berbanding dengan air laut itu. Sekiranya tidak karena bumi Karbala, niscaya Aku tidak memuliakanmu dan sekiranya tidak karena orang yang terkubur di bumi Karbala, niscaya Aku tidak menciptakanmu.”

Bualan dan kebohongan yang berjejal ditulis oleh seorang ulama Syi’ah Rafizhah Istna Asy’ariyah Ja’fariyah, bernama Al Hurru Al ‘Amili di dalam bukunya “Wassailus Syi’ah” jilid v, niscaya Ahlul Kiblat tidak akan mengucapkannya, dan tidak mungkin diucapkannya. Akan tetapi orang-orang yang mengatakan dan mempercayai bualan serta kebohongan semacam ini dan kesesatan seperti itu adalah golongan Syi’ah Rafizhah Imamiyah. Karena mereka memang bukan Ahlil Kiblat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam dan umatnya.

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt. Demi memahami dan mengerti dengan jelas masalah Syi’a Rafizhah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah, maka di dalam sajian ini kami akan ketengahkan keyakinan Syi’ah terhadap Al-Qur’an. Bahwa menurut mereka Al-Qur’an telah diubah, telah ditambah dan dikurangi. Sedangkan Al-Qur’an yang asli sesungguhnya ada ditangan juru selamat yang mereka khayalkan dan ditunggu kedatangannya, dimana Al-Qur’an itu adalah tiga kali lebih banyak daripada yang ada ditangan umat Islam. Mereka percaya bahwa Imam-imam mereka mengetahui soal-soal ghaib, dan imam-imam itu baru bisa mati bila mereka berkehendak untuk mati. Mereka itu adalah orang-orang yang terpelihara dari segala kekurangan dan dosa, lebih mulia dari para Nabi dan Rasul, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi serta mengetahui segala isi surga dan neraka. Mereka menyatakan dan berkeyakinan, bahwa para sahabat yang telah mendapat ridha Allah itu setelah Rasulullah wafat semuanya murtad dari Islam, kecuali belasan orang sahabat. Mereka berkeyakinan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman dan para istri Rasulullah ‘Aisyah dan Hafsah serta sahabat Thalhah dan Zubair serta orang-orang yang mengikuti mereka, (semoga Allah melindungi kita) adalah orang-orang Zindiq dan kafir. Kebohongan, keyakinan dan pernyataan kekafiran yang mengeluarkan orang dari Islam lagi sesat serta menyesatkan semacam ini, mereka tulis didalam buku-buku induk mereka dan menjadi prinsip-prinsip agama dan panduan mereka. Di antara buku-buku yang telah menjadi kiblat mereka dan prinsip-prinsip agama mereka kami jadikan sebagai bukti kepada mereka agar menjadi binasa orang yang melawan bukti kebenaran dan menjadi selamat orang yang mau mengikuti kebenaran. Allahlah pemberi petunjuk kepada jalan yang benar.

Wahai kaum Muslimin, berikut ini adalah kepercayaan yang menjadi Aqidah Syi’ah dan pernyataan yang tercantum di dalam buku-buku induk mereka. Marilah kita mulai dengan mengkaji kepercayaan mereka terhadap Al-Qur’an:

1. Abu Abdullah a.s berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh jibril a.s kepada Muhammad saw adalah tujuh belas ribu ayat”. (Al Kaafi fil Ushul, 2:634, cetakan Teheran Iran).

2. Dari padanya pula: “Pada pihak kami sungguh ada Mush-haf Fathimah a.s dan tahukah mereka apa Mush-haf Fathimah itu? Jawabnya: “Mush-haf Fathimah itu isinya tiga kali lipat dibanding dengan Al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak satu pun huruf dari Al-Qur’an tersebut terdapat dalam Al-Qur’an kalian”. (Al Kaafi fil Ushul, 1:240-241).

3. Dari Jabir, dari Abu Ja’far a.s, ia berkata: “Saya bertanya: “Mengapa Ali bin Abi Thalib dinamakan Amirul Mukminin?” Jawabnya: “Allah yang menamakan demikian. Begitulah yang telah diturunkan di dalam kitab Suci-Nya yaitu firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلىٰ اَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلِيْ وَأَنَّ عَلِيًّا أَمِيْرُالْمُؤْمِنِيْنَ.

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari Bani Adam, dari punggung mereka anak keturunan mereka dan Ia jadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri: Bukankah Aku ini Tuhan kamu dan Muhammad Rasul-Ku dan Ali adalah Amirul Mukminin?” (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:437, cet. Teheran Iran).

4. Diriwayatkan pula, ia berkata : “Jibril turun membawa ayat ini kepada Muhammad dengan bunyi demikian:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلىٰ عَبْدِنَا فِيْ عَلِيٍّ فَأ ْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ.

Artinya: “Dan jika kamu sekalian meragukan terhadap apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, maka datangkanlah satu surat saja yang serupa dengannya”. (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:417, cet. Teheran Iran).

5. Dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah a.s tentang firman Allah:

مَنْ يُطِعِ آلله َوَرَسُوْلَهُ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ وَاْلأَئِمَّةِ بَعْدَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Artinya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya didalam urusan kewalian Ali dan para Imam sesudahnya, maka sesungguhnya ia memperoleh kemenangan yang besar”, demikianlah ayat tersebut diturunkan”. (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:414, cet. Teheran Iran).

Inilah dia keyakinan kaum Syi’ah terhadap Al-Qur’an, suatu keyakinan kafir lagi keluar dari Islam, laksana keluarnya anak panah dari busurnya, sepercik dari yang banyak ini bisa anda temukan pada kitab-kitab induk mereka yang terkenal, dari buku Al Kaafi karya Al Kulaini dari tafsir Al Qummi dan buku Al Ihtijaj karya Thibrisi, buku Bashairud Darajaat karya Shafar, dan Hayatul Qulub karya Al Majlisi, Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani dan tafsir Ash-Shafi karya Muhsin Al Kashi. Juga buku Fashlul Khithab fi Itsbattahriifi Kitaabi Rabbil Arbaab karya ulama Syi’ah bernama Mirza Taqiyyunnuuri At-Thibrisi, buku Al Anwar an-Nu’maniyah karya Ni’matullah Al Jazairi, dan buku Kasyful Asrar karya Khumaini dan lain-lain lagi. Tidak satu pun kitab dari buku-buku induk Syi’ah yang menjadi pegangan mereka terlepas dari keyakinan yang merupakan identitas mereka ini, mereka kaitkan keyakinan semacam itu kepada para imam mereka yang mereka anggap ma’shum, anggapan yang penuh kepalsuan dan kebohongan , dan mengada-ada atas nama Allah, dan para Aulianya. Para Imam tersebut sebenarnya bersih dari kebohongan dan tipu daya yang mereka lakukan itu. Keyakinan-keyakinan semacam itu tentang Al-Qur’an sebagaimana tercantum penuh di dalam buku-buku induk Syi’ah, hanyalah bisa dikatakan dan dipercayai oleh orang kafir lagi lepas dari Islam, karena Allah telah berfirman di dalam Kitab Suci-Nya sebagai berikut:

1.

الم • ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Alif Lam Mim. Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 1-2)

2.

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Artinya: ” Tiada tersentuh oleh kebatilan di masanya dan tidak pula sesudahnya. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42).

3.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: ” Sungguh Kami sendirilah yang menurunkan Adz-Dzikir ini dan sungguh Kami sendiri yang memeliharanya,(Al Hijr: 9).

Ayat-ayat yang terang lagi jelas ini, seterang matahari di siang bolong adalah menjadi bukti yang jelas lagi mendasar, bahwa Al-Qur’an sungguh-sungguh terjaga dan terpelihara. Penjaganya adalah Allah, Tuhan yang telah menurunkan kebenaran tersebut. Dia menurunkannya untuk memberikan penjelasan mengenai berbagai masalah dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Demikianlah kepercayaan Ahlul Kiblat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bukan kepercayaan orang-orang yang mengaku-aku, sekalipun mereka dengan menggunakan seribu dalih dan menghiasi pengakuan-pengakuan mereka itu dengan kata-kata manis dan menarik agar barang dagangan mereka laris. Karena kitab-kitab mereka sendiri telah mendustakan mereka dan menjadi “senjata makan tuan”.

Jika golongan Syi’ah membantah dengan kata-kata: “Bagaimana bisa terjadi begitu, padahal kami membaca Al-Qur’an yang sama seperti Al-Qur’an yang ada dan kami melaksanakan hukum-hukumnya?” Kami menjawab, “Dari ucapanmu sendiri kusumbat mulutmu dan dari tempat minummu kulepas dahagamu”. Karena itu wahai golongan Syi’ah, dengarlah kata-kata yang diucapkan oleh ulama kamu dan pemimpin kamu yang agung, Ni’matullah al Jazairi, dalam bukunya yang tebal Al Anwar an-Nu’maniyah 2 hlm. 363-364, cetakan Teheran, sebagai berikut:

1. Ia berkata: Jika anda bertanya, mengapa (kami) dibenarkan membaca Al-Qur’an ini, padahal ia telah mengalami perubahan?” Saya menjawab: “Telah diriwayatkan di dalam banyak riwayat bahwa mereka (para imam Syi’ah) menyuruh golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam di waktu shalat dan lain-lain dan melaksanakan hukum-hukumnya sampai kelak datang waktunya pemimpin kita, Shahibuz Zaman, muncul lalu menarik dari beredarnya Al-Qur’an yang ada di tengah umat Islam ini ke langit dan mengeluarkan Al-Qur’an yang dahulu disusun oleh Amirul Mukminin as, lalu Al-Qur’an inilah yang dibaca dan di amalkan hukum-hukumnya”. Riwayat-riwayat yang menyebutkan pernyataan seperti ini banyak sekali.

2. Ulama mereka yang bernama Al Karmani telah berkata di dalam buku “Ar-Raddu ‘ala Hasyim Assyami, halaman 13, cetakan Karman Iran”: “Telah terjadi perubahan kalimat, pemindahan dan pengurangan di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an yang sebenar-benarnya terpelihara hanyalah yang ada di tangan Al Qaaim (Imam ke- 12 yang ghaib) dan golongan Syi’ah sebenarnya hanyalah karena terpaksa membaca Al-Qur’an yang ada ini karena taqiyyah yang diperintahkan oleh keluarga Muhammad a.s”(imam-imam mereka).

Inilah dia I’tikad kaum Syi’ah terhadap Al-Qur’an dan demikianlah tertulis dalam buku-buku induk mereka serta bimbingan dari para Imam dan ulama mereka menjadi saksi pada diri mereka, sekalipun mereka menolak dan menutupi, dan sekalipun mereka menjadi panik dengan berbagai dalih dan taqiyyah, terkecuali mereka berlepas diri dari keyakinan mereka itu dan kitab-kitab induk mereka yang merupakan sumber-sumber kekufuran, kebejatan, dan kesesatan, kemudian dengan terus terang mengumumkan taubat mereka kepada Allah dan kembali kepada kebenaran dan jalan lurus – karena di luar kebenaran yang ada hanyalah kesesatan. Karena itu kemanakah kalian akan berpaling-.

Kedua: kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka.

Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah berkepercayaan terhadap Imam-imam mereka, bahwa mereka mengetahui hal ghaib dan merupakan manusia Ma’shum serta mempunyai derajat lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul Allah, dan mereka hanyalah bisa mati atas kehendak mereka sendiri. Mereka menempatkan martabat para imam mereka setaraf dengan derajat ketuhanan, sebagaimana mereka katakan, bahwa para imam tersebut mengetahui hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi serta mengetahui segala isi Surga dan Neraka dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka – kebohongan dan kedustaan yang mereka lakukan atas nama Allah, dimana seseorang yang berakal sehat dan berjiwa waras berdiri bulu romanya untuk menukil ucapan semacam itu, tetapi anda mendapatinya semuanya tercantum di dalam buku-buku induk mereka yang paling terpercaya dan paling mereka agungkan.

Berikut ini wahai saudaraku Muslim, kami kutipkan keyakinan dan pendapat-pendapat mereka sebagaimana tersebut di atas dari kitab-kitab kaum Syi’ah, agar anda mengetahui permasalahannya secara jelas tentang ajaran dan perihal mereka, sehingga anda dapat membantah kebohongan mereka dan tipu daya mereka serta dapat menghentikan nafas mereka dan membungkam trompet mereka.

1. Dari Mufadhdhal bin Umar, dari Abi Abdillah a.s; adalah Amirul Mukminin semoga kesejahteraan Allah banyak terlimpah kepadanya, berkata: “Aku adalah penyalur Allah antara Surga dan Neraka. Aku adalah pembeda agung antara hak dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan telah mengakui diriku semua Malaikat dan ruh serta rasul-rasul sebagaimana mereka lakukan pengakuan itu kepada Muhammad saw. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah saw, pernah dipanggil lalu dibekali, dan aku pun pernah dipanggil lalu dibekali serta dia diajak bicara dan aku pun juga diajak bicara sehingga aku mengucapkan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta seluruh silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripadaku tiada terluput dari diriku, dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah dan menunaikan tugas atas nama-Nya. Semua itu dari Allah yang telah menempatkannya pada diriku dengan Ilmu-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, hal. 196-197, juz 1, cetakan Teheran).

2. Ia berkata: “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi serta segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang telah terjadi serta sedang dan akan terjadi”, (Al Kaafi fil Ushul, 1:261, cetakan Teheran).

3. Ia berkata: “Allah Tuhan Yang Maha berbarakah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu: Satu ilmu ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Semua yang ditampakkan kepada para Malaikat, para Rasul-Nya dan para Nabi-Nya sesungguhnya kami juga mengetahuinya. Dan satu ilmu yang dikhususkan untuk Dzat-Nya. Bilamana ada sesuatu hal yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal yang demikian itu. Dan para imam yang ada sebelum kami juga diberitahu. (Al Ushul Minal Kaafi, 1:255).

4. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Allah telah menciptakan Ulul Azmi di antara Rasul-rasul-Nya dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi ilmu mereka dan kelebihan mereka itu serta kami dilebihkan di atas ilmu mereka. Dan diajarkan kepada Rasulullah saw apa yang mereka tidak ketahui dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah saw serta ilmu mereka.” (Bashairud Darajat, 5:248 dan Al Fushulul Muhimmah, hal. 156).

5. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik Imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:409, cetakan Teheran).

6. Mirza Muhammad Haadi al-Khurasaani berkata: “Telah bersabda saw: Sungguh surga itu diciptakan untuk orang yang mencintai Ali, sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah. Neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali, walaupun ia taat kepada Rasulullah.” (Risalatul Islam Wal Mukjizat, hal. 276).

7. Kulaini dalam bukunya Al Kaafi di dalam bab “Para Imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri”, meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja’far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: “Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untul makhluk-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).

Sungguh melampaui segala batas Kaum Syi’ah itu, apabila menyanjung dan memuji, merangkai khurofat dan menjalin dusta kemudian mengalamatkan itu semua kepada Imam-imam mereka, bahwa imam-imam itu berkata: “Kami telah diciptakan Allah dari cahaya keagungan-Nya dan badan kami beserta roh-roh Syi’ah kami diciptakan dari tanah istimewa dibawah Al-Arsy, adalah jasad-jasad Syi’ah dan para Nabi diciptakan dari tanah kurang dari yang semula, sedangkan manusia-manusia selain Syi’ah telah diciptakan Allah dari tanah untuk menjadi kayu bakar untu api neraka.

Demikianlah apa yang dikatakan oleh Bintang Ulama mereka Alkulaini dalam kitabnya “Alkafi”, kitab yang pernah diberi ijazah oleh Imam mereka yang ghaib dan direstui dengan ucapan “Sungguh cukup kitab ini untuk Syi’ah kami”, dan karena Syahadah Imam itulah kitab tersebut dinamakan “ALKAFI”.

Berkata Alkulaini itu:

1. Diriwayatkan oleh beberapa kawan kami, dari Ahmad bin Muhammad dari Abi Isa Alwashithi dari beberapa kawan kami, dari Abi Abdillah a.s, ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami dari “Keagungan” dan roh-roh kami diciptakan dari unsur lebih dari itu, dan roh-roh Syi’ah kami diciptakan dari “Keagungan” juga, dan badan-badan mereka kurang dari itu, oleh sebab keakraban yang ada di antara kami dengan mereka, maka jiwa-jiwa mereka selalu rindu kepada kami. (Alkafi 1, hal. 389).

2. Dari Abi Abdillah a.s ia berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami dari cahaya Keagungan-Nya, kemudian membentuk tubuh kami dari tanah yang tersimpan dan terpelihara di bawah “Al-Arsy” dimana Allah menempatkan cahaya itu dalamnya, oleh sebab itu kami adalah “manusia cahaya”, tiada seorang pun diciptakan sebagaimana kami diciptakan, dan Allah menciptakan roh-roh Syi’ah kami dari unsur yang dari padanya jasad kami diciptakan dan badan mereka dari tanah yang tersimpan dan terpelihara di bawah itu, dan Allah tidak menciptakan siapa pun seperti ciptaan Syi’ah kami terkecuali para Nabi, oleh sebab itu sebenarnya kamilah dan mereka itu adalah hakekat manusia, sedangkan manusia-manusia yang lain adalah gerombolan urakan untuk neraka dan ke neraka. (Alkafi 1 hal. 389).

3. Dari Abi Hamzah Ath-thamali ia berkata: Aku mendengar Abu Ja’far a.s berkata: Allah menciptakan kami dari Keagungan yang paling tinggi dan menciptakan jiwa-jiwa Syi’ah kami dari unsur itu juga dan badan mereka Allah ciptakan dari materi di bawah itu.

Adapun musuh-musuh kami, Allah ciptakan dari kerendahan yang paling bawah dan menciptakan jiwa-jiwa pengikut mereka dari materi dari materi di bawah itu. (Alkafi 1 hal. 390).

Wahai kaum Muslimin yang diterangi Allah mata dan pikirannya dan wahai insan yang anda telah dilebihkan oleh Pencipta anda di antara sekalian makhluk-Nya serta anda diberi akal untuk dipergunakan membedakan yang baik dari yang buruk dan yang sesat dari yang lurus serta yang gelap dari yang terang!

Demikian I’tikad kaum Syi’ah terhadap Imam-imam mereka yang terhimpun di dalam kitab-kitab mereka, yang mereka nyatakan sebagai literatur yang sah, utama, benar dan baik. Apakah ada kekafiran yang lebih berat daripada kepalsuan dan kebohongan semacam ini? Adakah patut orang yang berkepercayaan kepada I’tikad dan dongeng-dongeng tersebut dikatagorikan sebagai Islam dan Ahlil Kiblat? Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Suci dari omongan mereka itu.

Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an yang terang lagi jelas menolak kebohongan dan kebatilan mereka itu:

1. An Naml, ayat 65.

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

Artinya: Katakanlah: “Tidak ada siapapun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.”

2. Al An’am, ayat 59.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”

3. Al Jin, ayat 26.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا • إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

Artinya: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, terkecuali siapa yang Dia kehendaki dari para Rasul.”

4. Al An’am, ayat 50.

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat.”

5. Al A’raf, ayat 188.

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak menguasai manfaat dan bahaya bagi diriku sendiri, kecuali apa yang menjadi kehendak Allah. Sekiranya aku lebih dahulu mengetahui yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak tersentuh oleh kesusahan. Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang pemberi ancaman, dan pembawa kabar gembira kepada kaum yang beriman”.

6. Luqman, ayat 34.

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

7. Al Hijr, ayat 23.

وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ

Artinya: Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.

8. Ali Imran, ayat 145.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

Artinya: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tentu waktunya.”

Ayat-ayat yang jelas tersebut di atas adalah Aqidah yang murni lagi bersih dari setiap noda, yang menjadi aqidah Ahlul Kiblat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berkaitan dengan ilmu ghaib.

Ketiga: kepercayaan Syi’ah dan pernyataan mereka tentang kekafiran para ibu kaum Mukminin (istri-istri Rasulullah) dan para sahabat Rasulullah serta kebohongan yang mereka atas namakan Allah dan Rasul-Nya serta para pendahulu dari umat Islam ini yang telah membuktikan kebenaran janji-janji mereka kepada Allah serta membela kebenaran dan berlaku adil.

Kami akan nukilkan untuk anda, wahai kaum Muslimin sebagian dari pernyataan ulama-ulama Syi’ah dalam kitab-kitab induk mereka (kami memohon ampun kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia dan kami bertaubat kepada-Nya, karena menukil pernyataan kekafiran dan kebohongan yang mereka atas namakan para wali-wali Allah) sekedar untuk maksud memberikan bukti atas kesesatan mereka, sehingga setelah melihat kebenaran dipersilahkan untuk binasa, barangsiapa menghendaki kebinasaan, dan tetap selamat orang yang mau mengikuti kebenaran.

1. Tokoh ulama Syi’ah yaitu al-Majlisi di dalam kitabnya “Hayatul Qulub” 2:700, cetakan Teheran”, menyebutkan: “Sungguh al-Ayyaasyi meriwayatkan dengan sanad yang masyhur dari ash-Shadiq a.s bahwa Aisyah dan Hafsah keduanya dilaknat oleh Allah begitu pula kedua bapaknya, karena kedua wanita tersebut telah membunuh Rasulullah dengan racun yang diminumkan kepadanya.”

2. Ulama Besar Syi’ah, Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya “Haqqul Yaqiin, hal.519″ berkata: “Kepercayaan kami mengenai tabarru’ ialah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyyah, serta empat orang wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam, serta pengikut mereka dan golongan mereka, Meraka adalah makhluk Allah yang paling jahat di muka bumi. Sesungguhnya tidaklah sempurna keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan para Imam, kecuali jika seseorang telah melepaskan diri dari musuh-musuh mereka.”

Wahai para hamba Allah, perhatikanlah kebencian dan kedengkian Syi-i Rafidli durhaka ini yang berlaku bohong dengan keji, yang mencerca kehormatan para ibu kaum Mukminin, dan para sahabat Rasulullah yang adalah manusia terbaik sesudahnya dan celaan mereka kepada segenap kaum Muslimin. Namun kita merasa cukup Allah sebagai pelindung kita atas mereka. Sedangkan kepada penjahat-penjahat konco iblis, kami menjadikan Allah sebagai penghukum mereka dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan-kejahatan mereka.

3. Seorang tokoh Ahli Hadits Syi’ah dan salah seorang ulamanya, yaitu al-Kulaini di dalam kitabnya “Ar-Raudhah Minal Kaafi, 8:245, menyebutkan: “Para shahabat sepeninggal Rasulullah murtad dari padanya, kecuali tiga orang al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.”

4. Seorang tokoh dan ulama mereka, Salim bin Qais al-Amiri di dalam kitabnya halaman 96, berkata: “Semua sahabat sepeninggal Rasulullah saw menjadi murtad, kecuali empat orang.”

5. Ahli hadits mereka yang terkemuka, Husein bin Abdul Shamad al-Amili di dalam kitabnya “Wushulul Akhyar ilaa Wushulil Akhbar” mengenai sifat-sifat shahabat ia berkata: “Kami bertaqarrub kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan membenci shahabat-shahabat, mencela mereka dan membenci setiap orang yang mencintai mereka.” (Baca halaman 164, cetakan Qom, Iran).

6. Mereka menisbatkan suatu kisah bohong dan dusta kepada Ja’far ash-Shadiq, katanya: “Apabila sampai kepada kalian dua hadits yang berlawanan, maka ambillah hadits yang berlawanan dengan umat ini (umat Islam).” Dan katanya pula: “Sesuatu yang menyalahi umat Islam, maka itulah sesuatu yang benar.”

7. Dan katanya pula: “Demi Allah, kalian sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada mereka (umat Islam). Dan mereka pun sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada kalian. Karena itu berbedalah kalian dari mereka. Apapun yang mereka lakukan sama sekali tidaklah termasuk hal yang benar.”

8. Mereka pun menisbatkan kepada Ash-Shadiq juga, katanya: “Demi Allah, tidak ada sedikitpun kebenaran yang masih tinggal ditangan mereka (umat Islam). Yang tersisa pada mereka hanyalah menghadap Ka’bah.” (Al Fushulul Muhimmah fii Ushulil Aimmah, karya al-Khur al-Amili, halaman 225/425).

Mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka dan tidak membenarkan kepercayaan mereka yang sesat itu dan tidak tunduk kepada mereka sekalipun itu para Nabi dan para Rasul, silahkan mengikuti apa yang mereka katakan:

1. Dari Abi Abdillah: “Telah diperintahkan kepada manusia untuk mengenal kami (para Imam) dan berpaling kepada kami dan menyerah kepada kami, dan sekalipun mereka (manusia itu) puasa dan bersyahadat bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, tetapi mereka tidak yakin untuk berpaling kepada kami (para Imam) maka dengan demikian mereka menjadi musyrik.” (Wasailus Syi’ah 18 hal. 46).

2. Dan ia berkata: “Demi Allah sekalipun dia sujud sampai patah lehernya, Allah tidak akan menerimanya terkecuali berserah diri kepada kami Ahlilbait.” (Ibnu Babawaih, AlKhisal I, hal. 41).

3. Dari Abi Ja’far: “Barangsiapa mengangkat bersama Imam Ali siapa pun, maka musyriklah dia.” (Alkafi I, hal. 437).

4. Dari Abi Abdillah: “Barangsiapa mengingkari imam-imam, sama dengan mengingkari Allah dan mengingkari Rasul-Nya.” (Alkafi I, hal. 181-187).

5. Dari Abil Hasan a.s, ia berkata: “Kewalian Ali a.s. tertulis di semua Shuhuf para Nabi, dan Allah tidak akan mengutus seorang Rasul terkecuali dengan Nubuwat Muhammad saw dan Washiny (Ali r.a)”. (Alkafi I, hal. 437).

6. Telah berkata Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib r.a): “Sesungguhnya Allah telah menawarkan Walayahku (sumpah setia kepadaku) kepada semua penghuni langit dan bumi, maka ada yang mengakuinya dan ada yang tidak, termasuk Nabi Yunus yang tidak mengakuinya, maka karena itu Allah memenjarakan dia (Nabi Yunus) dalam perut ikan, sampai dia mangakui sumpah setia itu.” (Bashairuddarajat ed. 2, bab 10).

7. Dari Abu Ja’far, ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya di langit ada 70 jenis Malaikat, sekiranya penghuni bumi berkumpul untuk menghitung bilangan satu jenis saja dari Malaikat itu, niscaya seluruh manusia itu tidak mampu menghitung jumlah bilangannya, sesungguhnya semua Malaikat itu bersumpah setia kepada kami (para Imam).” (Bashairuddarajat ed. 2, bab 6).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s